Hai Movie Freaks!
Hari ini ada film yang unik yang menurut gue underrated banget. Soalnya di XXI batang hidungnya ga kelihatan nih guys! Siap-siap, karena film ini bakal bikin kamu mikir ulang soal arti “cuma bercanda”.
Baca juga: Unexpected Family (2026): Lebih Kandung Dari Keluarga Kandung Itu Sendiri! - OMZENGA
Ya! Film ini berjudul "The Plague" yang awalnya gue pikir film zombie, ternyata eh ternyata guys.. Film ini lebih horor dari film horor yang sesungguhnya!
Sinopsis:
Dimana-mana musim panas harusnya jadi waktu paling bebas buat anak-anak ya. Tapi The Plague justru nunjukin sisi lain, saat rasa pengen diterima bisa berubah jadi alat buat nyakitin orang lain. Lewat cerita yang pelan, dingin, dan nggak banyak basa-basi, film ini ngebedah dunia anak laki-laki di usia remaja, di mana candaan, solidaritas, dan kekejaman berbaur jadi satu.
Berlatar musim panas tahun 2003, The Plague ngajak kita masuk ke sebuah kamp polo air khusus buat anak-anak cowok remaja tanggung. Tempatnya sih kelihatannya fun, tapi aslinya penuh tekanan sosial dan aturan tak tertulis soal siapa yang “keren” dan siapa yang “aneh” gitu deh.
Tokoh utamanya Ben, anak 12 tahun yang super pemalu, socially awkward banget, dan masih kebawa aura broken-home karena orang tuanya baru cerai. Masuk ke kamp ini bikin Ben makin ngerasa sendirian dan nggak pede. Semua orang kayak udah punya geng, sementara Ben cuma pengen satu hal yatitu "diterima".
| Ben |
Di kamp itu, ada Jake, si leader padahal si karena dia karismatik, dominan, dan lumayan toxic. Dia ini yang nentuin siapa anak cowok yang aman, dan siapa jadi yang jadi target. Nah, supaya gak nggak jadi korban, Ben mulai ngikut arus, meski hatinya sering nggak sreg sama keputusan yang dia ambil.
Satu-satunya orang yang bikin Ben ngerasa nyambung adalah Eli. Eli ini anak pendiam yang dijauhin semua orang karena jerawat dan ruam di kulitnya. Anak-anak lain ngecap Eli sebagai “The Plague”, seolah-olah penyakitnya menular dan bisa “ngerusak” orang lain. Sounds absurd? Iya. Tapi justru di situlah letak horornya guys.
Label “Wabah” ini lama-lama jadi alasan buat ngejauhin, ngeledek, sampai ngerjain Eli rame-rame atas nama “becanda”. Dari sinilah semuanya makin gelap. Candaan berubah jadi ritual pengucilan yang kejam, dan Ben pelan-pelan ketarik masuk, bukan karena dia jahat, tapi karena dia takut jadi target berikutnya.
Baca juga: Weapons (2025): Misteri Anak-Anak Hilang, Polisi Bingung, dan Teror yang Mencekam! - OMZENGA
Saat batas antara main-main dan kekerasan beneran makin kabur, Ben dipaksa ngaca, dia mau jadi siapa? Anak baik yang berdiri sendirian, atau bagian dari kelompok yang selamat tapi harus ngorbanin orang lain?
The Plague adalah cerita pahit, tentang gimana rasa takut, tekanan temen sebaya, dan obsesi buat “jadi cowok” bisa bikin anak-anak biasa ngelakuin hal-hal yang disturbing banget.
Kenapa film ini kena banget? Horornya realistis. Nggak ada jumpscare, tapi situasinya relate dan bikin nggak nyaman. Karakter anak-anaknya kerasa hidup. Dialog awkward, toxic jokes, dan peer pressure-nya dapet banget. Eli itu simbol. Dia bukan cuma “anak sakit”, tapi representasi siapa pun yang dianggap beda dan akhirnya jadi korban rame-rame. Ben itu kita. Nggak jahat, tapi juga nggak cukup berani.
"The plague is fake. So can you please tell everyone that I'm good?" - The Plague
Bagian paling nyesek: Film ini bikin kita sadar kalau kekejaman sering banget dibungkus kata “cuma bercanda”, “tradisi”, atau “biar solid”.
Kesimpulan
The Plague bukan film buat senang-senang. Ini film yang pelan, dingin, dan nagih secara mental. Abis nonton, kamu mungkin diem bentar sambil mikir! Seru ga sih? Yuk langsung nonton!
See ya,
REX
Komentar
Posting Komentar